Oleh: budakbemunsri | 9 September 2010

Assalammualaikum Wr Wb


Segenap Pengurus

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Sriwijaya

mengucapkan

Selamat Idul Fitri 1431 H

Mohon Maaf Lahir & Batin


Sulton Amna                                                     Oka Lesmana

(Presiden Mahasiswa)                           (Wakil Presiden Mahasiswa)

Oleh: budakbemunsri | 4 Agustus 2010

Setengah Perjalanan BEM Unsri

Tak terasa sudah 6 bulan berlalu sejak terbentuknya kepengurusan BEM Unsri Kabinet Unsri Bersatu. Berbagai agenda dan program kerja sudah di laksanakan dengan penuh kebersamaan, walaupun masih banyak yang harus mendapat perhatian baik dari segi persiapan, pendanaan, dan lainnya. Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sriwijaya sebagai eksekutif tertinggi di Universitas Sriwijaya sudah seharusnya dapat memberikan sebuah kontribusi yang lebih bagi kemajuan unsri khususnya dan perkembangan pendidikan di Indonesia pada umumnya, yang pada saat ini sangat memprihatinkan.

Segala potensi yang tergabung di dalam BEM Unsri sudah bersatu bahu membahu untuk memberikan yang terbaik bagi Bangsa ini. Kita semua yang telah berkorban, baik waktu, tenaga, pikiran, harta, bahkan nyawa sekalipun menjadi taruhan. Akan tetapi di sanalah arti sebuah keindahan dan perjuangan. Memang sudah sejatinya bahwa pahlawan dan pejuang itu sedikit, karena dengan sedikit itulah kita bias lebih optimal dan bahkan bias melakukan yang banyak. Karena dengan sedikitnya kita, maka disana telah terjadi proses seleksi/ eliminasi menjadi sebuah organisasi yang di dalamnya terdapat orang-orang yang sudah teruji. Untuk itu benarlah perkataan Rasulullah SAW. “Beruntunglah Ghuroba (orang yang di anggap asing)”, yang merekalah orang-orang yang telah memurnikan perjuangan, bahkan rela memberikan harta dan nyawanya untuk orang lain, walaupun orang itu tidak kenal atau bahkan tidak mau mengenalnya. Semoga kitalah yang di sebut oleh Rasulullah itu.

Rekan-rekan kabinet, pengurus dan Gema Madani (GM’10) BEM Unsri 2010 yang saya banggakan. Di tangan kitalah sekarang estafet perjuangan dan di pundak kitalah beban harapan para pahlawan. Apakah kita akan diam dan membiarkan harapan dan perjuangan itu hilang begitu saja? Ataukah kita yang akan melanjutkan perjuangan dan harapan itu hingga akhir penentuan bagi kita, apakah kita hidup mulia sebagai PEMENANG, ataukah SYAHID di dalam perjalanan ini? Hanya DIA yang tau. Tugas kita saat ini adalah melakukan, dan melakukan yang terbaik, biarkanlah Allah, Rasul, dan orang-orang yang beriman menjadi saksi atas apa yang kita lakukan. Karena sudah menjadi sebuah kewajiban untuk kita beribadah kepada Sang Maha Gagah.

Perjuangan itu masih panjang dan harapan pasti datang. Sekarang, apakah kita mampu membuat sejarah baru yang akan kita berikan kepada para penerus sebagai bahan pelajaran, ataukan kita hanya menjadi generasi CoPas (Copy Paste) yang tidak memiliki inovasi, bahkan telah kehilangan jati diri. “Sejarah adalah milik mereka yang menciptakan, bukan milik kita. Milik kita adalah apa yang akan dan telah kita ciptakan”. Itulah kata-kata bijak yang telah di ucapkan oleh seorang bijak di zamannya, bahwa memang sejarah adalah sebagai bahan evaluasi dan bahan pelajaran yang sangat berharga bagi para penerusnya, dan sejarah itulah yang akan menjadi penuntun bagi kita untuk membuat sejarah-sejarah berikutnya. Karena sejarah akan berulang dan selalu berulang, hanya pelakunya saja yang berubah.

Buat Sejarahmu dan Ukir Prestasimu…

Hidup Mahasiswa…

Jayalah Indonesia…

Kuasai dan Hiasi Peradaban dengan ilmu dan kebaikan….

Oleh: budakbemunsri | 4 Agustus 2010

REFLEKSI 12 TAHUN REFORMASI

Genap sudah 12 tahun Reformasi bergulir, perjuangan bersejarah rakyat Indonesia yang bersatu untuk meruntuhkan rezim tiran orde baru. Peristiwa heroic para pelaku juga tercatat dalam tinta emas sejarah perkembangan Indonesia. Akan tetapi sekarang peristiwa itu tinggal sejarah, cita-cita para pejuang reformasi yang menginginkan agar Indonesia menjadi lebih baik di segala bidang sampai sekarang pun masih menjadi PR besar baik bagi pemerintah maupun rakyat Indonesia secara keseluruhan. Reformasi belum selesai, cita-cita para pencetus reformasi pun belum terlaksana.

Reformasi adalah bagian penting bagi perubahan sistem demokrasi yang ada di Indonesia. Keterbukaan yang selama masa orde baru menjadi hal yang aneh dan tabu, saat ini siapa saja bisa mengumandangkan pendapatnya di muka umum tanpa harus merasa takut akan intervensi dari berbagai pihak selagi itu tidak merugikan orang lain, karena kebebasan berpendapat di muka umum sudah di atur oleh Undang-undang yang pada saat orde baru agak tersumbat, akan tetapi sejak bergulirnya reformasi keran kebebasan inipun secara perlahan-lahan terbuka. Yang menjadi pertanyaan saat ini adalah kebebasan berpendapat seperti apakah yang harusnya kita jalankan ? Jika saat ini ternyata kebebasan itupun di salahgunakan.

Sebagai bagian dari reformasi dan salah satu elemen yang berperan penting pada peristiwa tersebut, mahasiswa haruslah dapat mengambil peran untuk terus mengawal reformasi ini sampai tuntas sehingga tercapainya Indonesia yang berdaulat dan bermartabat di segala bidang kehidupan. Sebagai negara berpenduduk terbesar ke-4 di dunia dan memiliki kekayaan alam yang luar biasa, seharusnya Indonesia dapat menjawab segala tantangan yang di berikan, baik yang datang dari dalam maupun luar. Sudah seharusnya pemuda terutama mahasiswa kembali menyegarkan ingatan mereka tentang perjuangan para pendahulunya, agar peristiwa reformasi ini menjadi pemicu semangat bagi dirinya untuk memberikan sebuah kontribusi nyata secara totalitas dan ikhlas, hingga akhirnya nanti ia siap menjadi penerus estafet kepemimpinan negeri ini.

Reformasi belum selesai dan pekerjaan rumah yang harus di benahi semakin banyak. Korupsi, markus, dan berbagai penyelewengan yang terjadi di negeri ini adalah sebagian permasalahan yang harus di hadapi. Dan parahnya sebagian besar penyelewengan yang terjadi di lakukan oleh para pimpinan, yang harusnya menjadi teladan bagi para rakyatnya, padahal kemiskinan masih sangat marak terjadi di seluruh pelosok negeri. Neoliberalisme adalah salah satu sebab masih mewabahnya penyakit kemiskinan di negeri ini. Paham yang telah menguntungkan sebagian kecil masyarakat kaya dan menambah derita bagi para rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Paham yang juga membuat orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin melarat. Inilah realitas yang terjadi di masyarakat Indonesia saat ini, dan akhirnya akan melahirkan kesenjangan luar biasa antara si kaya dan si miskin. Tidak mengherankan jika Cita-cita reformasi yang telah di canangkan, hingga saat ini belum tercapai sepenuhnya.

Melalui peringatan 12 tahun reformasi kali ini sudah seharusnya menjadi spirit baru bagi kita sebagai bagian dari reformasi itu sendiri, sebagai iron stock bangsa ini dan juga sebagai agent of change untuk terus mengawal dan berjuang memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan pembangunan menuju Indonesia Impian yang Paripurna dan bermartabat.

Salam Reformasi .…

Hidup Mahasiswa ….

Jayalah Rakyat Indonesia !!!!

Sulton Amna (Presiden Mahasiswa Universitas Sriwijaya)

Oleh: budakbemunsri | 5 Juni 2010

Belajar Dari Bangsa Jepang

Tulisan ini terinspirasi setelah tadi pagi saya menyaksikan sebuah program berita interaktif di sebuah stasiun televisi swasta nasional.

Jepang, sebuah negara modern yang sampai hari ini masih memegang teguh tradisi asli bangsanya. Teringat pada sebuah dialog di akhir film The Last Samurai, ketika Kaisar Jepang dalam film tersebut mengatakan, “Kita boleh menerima modernisasi dari dunia barat, tapi kita tidak boleh lupa darimana kita berasal.” Mungkin alasan ini bisa dijadikan landasan kenapa sampai saat ini orang Jepang masih memegang teguh tradisi mereka.

Salah satu tradisi mereka yang terkenal di dunia adalah Harakiri atau yang lebih dikenal dengan bunuh diri dengan menusukkan pisau/pedang ke perut. Harikiri biasanya dilakukan ketika seseorang gagal menepati apa yang telah ia janjikan sebelumnya dan merasa malu tidak bisa bisa menepati janjinya.

Dalam era modern seperti sekarang ini, Harakiri juga mengalami modernisasi atau penyesuaian, terlebih di dunia politik. Seseorang yang tidak menepati janjinya akan melakukan Harakiri tapi bukan dengan menusukkan pisau ke perutnya, melainkan dengan mengundurkan diri dari jabatan tertentu yang dipegangnya. Dan inilah yang terjadi beberapa hari lalu di Jepang, ketika Perdana Menteri Jepang, Yuki Hatoyama mengundurkan diri dari jabatannya karena tidak bisa menepati janjinya pada saat kampanye, yaitu menutup pangkalan militer Amerika Serikat di selatan Pulau Okinawa. Padahal, Hatoyama baru delapan bulan menjadi perdana menteri.

Pengunduran diri seorang pejabat negara pun ternyata tidak hanya terjadi di Jepang. Di Inggris, pada bulan Mei lalu, seorang pejabat negaranya mengundurkan diri. Mereka adalah David Laws, Menteri Keuangan Inggris yang baru menjabat kurang dari sebulan setelah mengakui penggunaan penerimaan pajak sekitar 10 ribu poundsterling untuk membayar sewa apartemen bagi pasangan hidupnya. Malah, pada 2006, Perdana Menteri Korea Selatan ketika itu, Lee Hae-Chan, berani mengundurkan diri hanya karena dirinya bermain golf pada hari pemogokan pekerja kereta api.

Lalu, apa hubungannya dengan Indonesia pada hari ini? Perlu disadari atau tidak, Indonesia harus belajar dari orang-orang tersebut. Terlebih mereka yang pada hari ini menyandang status sebagai pejabat publik.

Di negeri yang selama satu dekade terakhir ini menggemakan semangat demokrasi, siapa saja berminat untuk menjadi pejabat publik seperti walikota atau gubernur. Berbagai cara dilakukan oleh mereka yang terobsesi menjadi pejabat publik, terlebih mereka yang sudah pernah menjadi pejabat dan ingin kembali menjabat. Dan untuk menggapai obsesi pribadi tersebut, berbagai janji-janji pun dilontarkan pada masa kampanye atau pengenalan diri ke publik.

Ironisnya, ketika seseorang sudah menduduki sebuah jabatan dan bahkan mencalonkan kembali dirinya, ia mengidap amnesia dengan apa yang ia janjikan. Selain itu, banyak yang ketika melakukan kesalahan tidak secara gentle mengakui kesalahannya atau mengklarifikasi kebenaran dari berita kesalahan yang diperbuatnya dan malah asyik membangun image diri dengan berbagai pencitraan positif yang kadang terkesan dipaksakan. Tidak hanya itu, jika seseorang sudah tidak bisa lagi mencalonkan dirinya sebagai kepala daerah dikarenakan sudah pernah memimpin selama dua periode, maka ia akan mempersiapkan anggota keluarganya (istri atau anak) untuk mencalonkan diri menjadi kepala daerah. Malah dalam salah satu pilkada di Jawa Timur, dua orang calon bupati yang keduanya adalah istri dari mantan bupati yang akan digantikan melalui pilkada tersebut, tidak mau bersalaman saat menghadiri salah satu acara yang diadakan oleh KPU setempat.

Suatu jabatan atau kedudukan di Indonesia saat ini lebih banyak dipandang sebagai sebuah status dimana dengan status tersebut banyak beranggapan akan mendapat sebuah kedudukan atau kehormatan di mata masyarakat. Fungsi dari jabatan yang menjadi substansi dari jabatan itu sendiri banyak dilupakan atau sengaja dinomorduakan oleh mereka yang memegang suatu jabatan.

Bisa dikatakan, mereka yang menjadi pejabat publik terkadang tidak begitu peduli dengan fungsi sebenarnya sebagai pelayan masyarakat melalui birokrasi yang dipimpinnya. Padahal, berdasarkan hasil survey oleh Political and Economic Risk Consultancy (PERC) kepada para eksekutif ekspatriat, birokrasi Indonesia menduduki birokrasi terburuk kedua di Asia setelah India.

Kita seharusnya malu dengan hasil survey tersebut. Secara logika, bagaimana mungkin bangsa yang dulunya membangkitkan semangat bangsa-bangsa lain di Asia dan Afrika untuk merdeka dan turut mendorong berdirinya Gerakan Non-Blok dan sempat dikenal sebagai Macan Asia, pada hari ini terkenal dengan berbagai permasalahan negatif seperti masalah korupsi dan lemahnya birokrasi negeri ini. Kita tidak cukup hanya berbangga dengan sejarah masa lalu. Bukankah malu sebagian dari iman?

Ke depan, kita harus menyadari bahwa jabatan bukan untuk dijadikan status diri agar mendapat kehormatan dan pandangan dari orang lain. Di balik semua itu, ada sebuah tanggung jawab besar dan fungsi kepemimpinan yang harus dilaksanakan. Dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya baik di dunia maupun di akhirat. Sudah sepatutnya kita belajar dari bangsa Jepang, dari bangsa manapun atau dari seseorang yang berani meninggalkan kedudukannya karena merasa tidak bisa menepati janji atau tidak menjalankan fungsi kepemimpinan dengan baik. Semoga para pemuda Indonesia yang merupakan pemimpin masa depan bisa menjadi pemimpin yang baik dan selalu merasa malu dengan kesalahan yang diperbuatnya.

Adietya Muhlizar

Wakil Menteri Pendidikan BEM Unsri 2009-2010

Oleh: budakbemunsri | 1 Juni 2010

Kontrak Politik Pilkada Ogan Ilir

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Sriwijaya berhasil mengajak keempat pasangan Calon Bupati-Wakil Bupati Kabupaten Ogan Ilir periode 2010-2015 untuk menandatangani kontrak politik saat debat publik Calon Bupati dan Wakil Bupati Ogan Ilir yang berlangsung di aula DPRD Ogan Ilir, Selasa, 1 Juni 2010. Isi dari kontrak politik tersebut adalah sebagai berikut:

KONTRAK POLITIK

Kami dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sriwijaya menghendaki adanya kontrak politik kepada keempat Kandidat Bupati dan Wakil Bupati Ogan Ilir.

Dengan ini kami berjanji, jika terpilih akan memenuhi poin-poin dari kontrak politik berikut:

1. menjalankan program yang prorakyat.

2. melibatkan Mahasiswa Universitas Sriwijaya dan rakyat Ogan Ilir dalam setiap kebijakan.

3. bersedia menjadikan Mahasiswa Universitas Sriwijaya sebagai mitra kritis dalam pembangunan    Ogan Ilir.

4. bersedia mundur jika tidak dapat memenuhi ke-3 poin di atas.

Indralaya, 1 Juni 2010

Mengetahui,

Presiden Mahasiswa BEM Unsri

Sulton Amna



Oleh: budakbemunsri | 1 Juni 2010

Pilkada Ogan Ilir, Rakyat Bukan Komoditi Politik

Pemilihan kepala daerah di Kabupaten Ogan Ilir tinggal menghitung hari. Masa kampanye tinggal beberapa hari lagi. Pemilihan Umum kedua (yang pertama tahun 2005) di Kabupaten yang baru berusia 5 tahun ini akan dilaksanakan pada tanggal 5 Juni nanti. Sudahkah anda tahu siapa-siapa kandidat calon bupati dan wakil bupati Ogan Ilir (OI)? Empat pasang peserta pilkada tersebut yaitu Ahmad Riyadh-Gani Subith (Arras), Hardi Sopuan-Amir Hamzah (Ham), Helmy Yahya-Yulian Gunhar (HG) dan Mawardi Yahya-Daud Hasyim (Mawaddah).

Kampanye gambar & kampanye akbar selama bulan Mei ini kembali menyuguhkan janji-janji manis calon orang nomor satu dan nomor dua di kabupaten ini. Ada yang realistis, ada yang ragu-ragu, ada yang sangat tidak realistis alias pembodohan masyarakat. Janji-janji memberikan ini memberikan itu, bangun ini bangun itu semuanya omong kosong. Apalagi secara jelas menjadi konsumsi public bahwa pilkada kali ini rentan dengan money politic. Ternyata ada bentuk baru dari money politic era sekarang yakni mengkemas janji-janji kampanye sebagai uang yang akan dicairkan nantinya setelah terpilih nanti, bahasa rakyatnya adalah mengiming-imingi.

Rakyat sebagai objek politik

Politik penuh dengan kepentingan. Rakyat sebaiknya “melek” bahwa kita sebagai rakyat telah bosan makan janji-janji. Rakyat OI jangan mau dibodohi. Hendaknya rakyat bukan lagi menjadi komoditi politik, yang diingat hanya jika masa pilkada tiba kemudian dilupakan ketika mereka telah terpilih. Kesadaran kita sebagai rakyat yang ibarat tebu, habis manis sepah dibuang. Kita (mahasiswa dan rakyat OI) harus bersatu guna menyuarakan aspirasi kita. Jangan mau lagi dibohongi oleh program-program yang menjual mimpi serta jauh dari logika realistis. Rakyat harus paham bahwa mereka sedang memilih “pelayan” baru yang bisa meningkatkan kesejahteraan bukan para “penjilat berdasi” atau “tikus berdasi” para koruptor ulung. Jadi, jangan mau menggadaikan harga diri kita sebagai rakyat hanya dengan uang 50 ribu, mie se-dus atau beras sekarung. Nikmat sesaat derita selama 5 tahun atau sabar sesaat sejahtera seumur hidup. Pilih yang mana?

Mahasiswa sebagai elemen tak terpisahkan dari rakyat

Universitas Sriwijaya sebagai “pabrik” penghasil “iron stock” (cadangan masa depan) pemimpin masa depan menjadi elemen tak terpisahkan dari Ogan Ilir. Secara de-facto, Unsri berdomisili di Ogan Ilir. Mahasiswa unsri sebagai civitas akademika, kaum intelektual sudah seyogyanya menjadi bagian tak terpisahkan dari rakyat OI. Menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menyikapi proses pergantian kepemimpinan di Ogan Ilir ini. Apalagi sesuai dengan aturannya bahwa mahasiswa pendatang (anak kost) boleh ikut memilih asal mendata diri di Kelurahan, dengan syarat berdomisili minimal 6 bulan di Ogan Ilir.

Saatnya rakyat menentukan nasibnya sendiri. Saatnya rakyat memilih siapa pemimpinnya nanti tanpa tekanan dari pihak manapun. Saatnya kembalikan kedaulatan di tangan rakyat. Saatnya Ogan Ilir menjadi lebih baik lagi “5 menit (di bilik suara) untuk 5 tahun (sejahtera)”

Untuk itu, kami dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM Unsri) menyatakan sikap :

  1. Menghimbau KPUD OI untuk bersikap netral dan fokus pada proses menyukseskan Pilkada OI,
  2. Mengajak masyarakat Ogan Ilir (termasuk mahasiswa) untuk berperan aktif menggunakan hak pilihnya dalam Pilkada OI, ingat di-coblos bukan di-contreng (sesuai aturan yang dibuat KPUD OI)
  3. Menghimbau pada para kandidat Bupati/WaBup untuk meluruskan niatnya, tidak membohongi masyarakat dengan janji-janji semu, tidak menjadikan rakyat hanya sebagai komoditi politik, serta harus fokus pada program-program yang pro-rakyat.

Hidup Rakyat Ogan Ilir !!!

Hidup Mahasiswa Unsri !!!

Indralaya, 27 Mei 2010

M. H. Agung Sarwandy

Menteri Sosial Politik BEM Unsri

Koordinator Aksi

Oleh: budakbemunsri | 1 Juni 2010

Pernyataan Sikap Hari Pendidikan Nasional

Press Release

PERNYATAAN SIKAP

Pendidikan adalah hak semua Warga Negara Indonesia. Seperti yang termaktub dalam Mukaddimah UUD 1945 bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa adalah tanggung jawab negara. Selayaknya ini menjadi sebuah bukti komitmen negara dalam hal mendidik putra-putri bangsa menjadi cerdas dan bisa berguna nantinya bagi nusa dan bangsa. Ini artinya pendidikan menjadi hal yang penting dan prioritas dalam rangka meneruskan estafet mengisi kemerdekaan ini. Namun setelah sekian lama evaluasi akan pendidikan ini kenapa kita jadi seolah-olah mengkerdilkan pendidikan. Menjadikan pendidikan hanya menjadi komoditi politik ketika menjelang pilkada, atau pendidikan hanya menjadi ladang garapan kepentingan oknum-oknum yang sok penting mewacanakan pendidikan penting demi kepentingan pribadi atau golongan. Layak kita katakan bahwa sesungguhnya “Pendidikan Itu Tidak Penting..!”.

Pendidikan menjadi sokoguru peradaban sejarah Indonesia. Siapa yang tidak kenal Ki Hajar Dewantara sebagai tokoh pendidikan Indonesia atau RA. Kartini sebagai tokoh emansipasi wanita dalam memperjuangkan pendidikan bagi putri bangsa. Seyogyanya perjuangan mereka kita teruskan lewat kerja-kerja nyata, termasuk bagi pemerintah dalam hal pengambilan kebijakan yang benar-benar bijak dalam rangka kemajuan pendidikan di Indonesia.

Setiap tahun, masyarakat baik siswa, guru, pemerintah, berhak untuk berevaluasi atas pendidikan di Negara kita, sudahkah mencapai taraf memajukan negara di ranah positif ataukah masih jalan di tempat. Kita boleh melihat pengalaman negara Amerika Serikat yang meninjau kembali seluruh kurikulum sekolah dari sekolah dasar hingga sekolah perguruan tinggi, meninjau kualitas guru, meninjau mata pelajaran, meninjau proses seleksi siswa, meninjau sistem evaluasi pembelajaran.

Indonesia harus melakukan evaluasi besar-besaran terhadap sistem pendidikan dan semua kebijakan yang terkait dengannya. Cukup sudah kita melihat banyak anak bangsa depresi bahkan stress berat ketika kelulusan diumumkan. Standar kelulusan perlu dievaluasi, jangan jadikan UN sebagai standar mutlak kelulusan, proses belajar mengajar selama 3 tahun dinomorduakan. Belum lagi kita meninjau kebijakan kemandirian satuan pendidikan yang dibalut UU BHP yang dibatalkan MK lewat yudicial review. Kita akan dibingungkan dengan follow up pembatalan UU BHP karena terjadi Vacum of Low pada bentuk hukum pendidikan sekarang, apakah kembali ke sistem lama atau jangan-jangan sekarang lagi disiapkan neo-BHP dengan balutan lebih halus tapi dengan substansi yang sama. Terlebih lagi kalau kita mengingat kembali program Sekolah Gratis. Sumsel lewat Gubernurnya, Alex Noerdin, sangat mengagung-agungkan program yang mendongkrak popularitas beliau sehingga terpilih menjadi Gubernur Sumsel. Padahal kita evaluasi sekarang sudah sebatas manakah kesuksesan program ini. Kita sama-sama berharap output dari program ini adalah Sekolah Gratis yang berkualitas, bukan yang sekedar apa adanya yang terindikasi dari guru-guru yang tidak secara maksimal mengajar.

Untuk itu dengan segala rasa hormat di momen Hari Pendidikan Nasional ini, kami dari ALIANSI MAHASISWA PELAJAR PEDULI PENDIDIKAN (A-MP3) yang terdiri dari BEM Se-Sumsel, IMAKIPSI, dan KGC Sumsel menyatakan sikap :

  1. Tolak Sistem UN yang menjadi standar kelulusan siswa, karena hanya akan membebani siswa. Sebaiknya pemerintah mengikuti saran MA yang menyatakan bahwa UN tidak layak diterapkan apabila belum ada pemerataan pendidikan di seluruh pelosok negeri baik dari segi sarana prasarana, kualitas guru, dll.
  2. Secepatnya untuk segera diperjelas status satuan pendidikan di tanah air setelah pembatalan UU BHP oleh MK lewat Yudicial Riview agar tidak terjadi vacuum of low di satuan-satuan pendidikan Indonesia.
  3. Adanya sosialisasi dan evaluasi akan program Sekolah Gratis, agar tidak hanya terkesan asal gratis tetapi seyogyanya Sekolah Gratis yang berkualitas.

HIDUP MAHASISWA INDONESIA..!!!

HIDUP PELAJAR INDONESIA…!!!

JAYALAH PENDIDIKAN INDONESIA…!!!

Palembang, 3 Mei 2010

M.H. Agung Sarwandy

Koordinator Aksi

Tanggal 1 Mei atau disebut dengan MayDay, yang biasa diperingati sebagai Hari Buruh Se-Dunia bermula dari gerakan buruh pada akhir abad ke-19 setelah berkembangnya kapitalisme di Eropa dan Amerika. Di sejumlah negara komunis, seperti China dan Kuba, 1 Mei menjadi hari libur penting.

Pada tahun 1866, Organisasi buruh sosialis di Eropa dan Amerika, Internasional. Pertama, menyatakan batas legal kerja delapan jam per hari. Lalu tahun 1886, tepatnya pada 1 Mei 1886, sejumlah serikat buruh di Amerika Serikat melakukan aksi besar-besaran menuntut jam kerja dikurangi menjadi delapan jam per hari. Demonstrasi ini berakhir rusuh di lapangan Haymarket Chicago pada 4 Mei, yang menewaskan belasan orang dan mencederai 100 orang lebih. Tahun 1889, Organisasi yang dibentuk kelompok sosialis di Eropa dan Amerika, Internasional. Kedua, memaklumkan 1 Mei sebagai Hari Buruh. Pada tahun 1920, di Hindia Belanda para buruh mulai memperingati Hari Buruh pada 1 Mei. Dan akhirnya tahun 1958, Presiden Amerika Serikat Eisenhower menjadikan 1 Mei sebagai Hari Hukum dan Hari Loyalitas.

–> Bagaimana dengan Indonesia?
Pada tahun1966 -1993, Peringatan Hari Buruh di Indonesia dilarang pemerintah Presiden Soeharto karena dianggap gerakan berkonotasi komunis. Serta pada tahun 1992, para buruh Hotel Hyatt Regency Surabaya merayakannya dengan mogok kerja tiga jam, perayaan pertama sejak Orde Baru berkuasa. Komite Mahasiswa Pembela Buruh Indonesia menggelar aksi serentak di Jakarta, Yogyakarta, dan Medan. Dan pada tahun 1993, Marsinah buruh pabrik Jam PT Catur Putra Surya di Porong Sidoarjo Jawa Timur, disiksa dan dibunuh pada 8 Mei. Dia dielu-elukan sebagai pahlawan buruh.

–> Gerakan SP/SB Indonesia Kekinian
Di Indonesia MayDay tetap saja menjadi tarik ulur, bagi Serikat Pekerja/Serikat Buruh (SP/SB) bahwa MayDay merupakan momentum penting guna memberikan kesan terhadap publik bahwa SP/SB mempunyai historikal SP/SB dan hal tersebut merupakan simbul penting dalam memperkuat barisan yang disebut dengan Solidaritas. Bagi Pemerintah Indonesia terhadap peringatan MayDay memberi komentar ‘tidak melarang’ dan tidak juga “meng-iya-kan”. Sehingga para pekerja tidak dapat dengan leluasa memperingati MayDay tersebut disebabkan para pekerja tidak bisa libur atau cuti dalam jumlah yang besar dengan alasan mengganggu jalannya produksi. Walaupun sebenarnya Indonesia sendiri telah meratifikasi Konvensi ILO terhadap Kebebasan Berserikat yang melahirkan Undang-undang No. 21 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh.

Hari ini para buruh memperingati hari buruh se-dunia. Gegap gempita peringatan di seluruh pelosok negeri menandakan akan semangat para buruh tuk semakin baik lagi dalam memposisikan diri dalam kehidupan berbangsa. Evaluasi besar-besaran akan bergaining position status “buruh” menjadi gamang ketika posisinya seakan-akan jadi kasta kelas bawah di berbagai negara di dunia.

Di Indonesia, peringatan “MeiDay” 2010 pun tak kalah serunya. Aksi unjuk rasa ataupun hanya aksi simpatik dimana-mana di pelosok negeri. Bahkan bukan hanya para buruh yang turun namun juga elemen lain yang peduli dengan nasib buruh.

Tuntutan para buruh dari tahun ke tahun tidak jauh beda,,yaitu pada intinya tuntutan peningkatan kesejahteraan buruh.

Di Indonesia ini terdapat minimal empat kelompok masyarakat terbesar yang sangat memerlukan kesungguhan kita semua untuk memperjuangkannya. Mereka itu adalah kaum petani, buruh dan penganggur, serta nelayan dan saudara kita yang merupakan kelompok margin di daerah perkotaan (urban). Petani khususnya di Pulau Jawa sebagian besar sudah tidak memiliki lahan pertanian sehingga berubah statusnya menjadi buruh tani. Buruh dan penganggur sangat mengalami kesulitan dalam mengarungi kehidupan karena tingkat upah dan keterampilan rendah. Penganggur masih menghadapi berbagai kendala untuk memperoleh pekerjaan yang layak bagi kehidupannya. Nelayan kita masih terbelakang, sehingga dalam alam perkembangan teknologi yang luar biasa, sering mereka justru menjadi penonton dan bahkan korban kemajuan teknologi tersebut karena tingkat penguasaan kurang.

Ke depan dalam memperjuangkan nasib kaum buruh dan pengangguran beserta petani, nelayan dan kaum margin di perkotaan tersebut dapat kita tempuh melalui berbagai upaya.

Pertama, bangun sistem jaminan sosial nasional (jamsosnas) yang memiliki liputan yang lebih luas. Badan Jaminan Sosial Nasional sebagai lembaga (institusi) penyelenggara yang bersifat nirlaba yang dikelola secara profesional. Melalui lembaga ini kita dapat membangun berbagai kegiatan pembangunan sarana dan prasarana transportasi dan komunikasi untuk menciptakan lapangan kerja, sekaligus penyebaran penduduk dan usaha secara rinci. Konsepsi untuk ini perlu dipersiapkan dengan baik.

Kedua, bangun birokrasi pemerintahan yang lebih baik. Sistem pembiayaan yang ada saat ini perlu ditransformasi bersama aparatnya agar dapat berperan afektif dan efisien.

Ketiga, inventarisasi kembali aset-aset, perusahaan swasta, BUMN/BUMD dan unit usaha lainnya agar dapat bersinergi lebih baik dan kembali pada Pasal 33 UUD 1945.

Keempat, bangun kembali sistem manajemen pemerintahan yang lebih baik agar pelaksanaan otonomi daerah (otda) dapat berjalan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. Pembagian kewajiban dan kewenangan yang berkeadilan.

Kelima, sistem ketatanegaraan kita perlu dikaji kembali dengan mengacu pada Pancasila dan UUD 1945, sesuai dengan tujuan pembangunan NKRI. Tentu banyak hal yang belum dapat diuraikan, tetapi penulis bermaksud untuk memotivasi kita semua supaya sadar dan berjuang lebih sungguh-sungguh. Semoga.

Hidup Kaum Buruh Dunia..!!!
Sejahtera Buruh Indonesia..!!!
Semangat Rakyat Indonesia..!!!

HIDUP MAHASISWA…!!!

—Selamat Hari Buruh Se-Dunia— 1 Mei // MayDay

By :
M. H. Agung Sarwandy
Menteri Sosial Politik (MenSospol)
Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sriwijaya

BEM UNSRI Siap menjaga citra baik Kampus dari Premanisme

Fungsi dan peran mahasiswa dalam perubahan bangsa ini sangatlah penting mengingat centralnya fungsi mahasiswa dalam mengawal dan mengisi kemerdekaan. Sebenarnya kita sudah tahu bahkan  hafal ketika kita belajar peran &  fungsi mahasiswa dalam organisasi-organisasi kemahasiswaan. Oleh karena itu, begitu pentingnya peran tersebut maka sudah semestinya mahasiswa sebagai iron stock  menyiapkan dirinya untuk menjadi penerus perjuangan ini. Terlebih lagi Universitas Sriwijaya sebagai lembaga pendidikan yang terkemuka di Sumatera Selatan khususnya, dan juga termasuk dalam 15    besar Universitas terbaik di Indonesia sudah seharusnya membentuk pribadi-pribadi yang dapat       merubah kehidupan berbangsa ini lebih baik lagi.

Dalam hal inilah, sudah semestinya prinsip utama dalam perbaikan moral bangsa, yakni pembentukan sikap yang arif dan berkharisma baik, layaknya pemimpin yang harus ada dan mesti terpatri dalam jiwa seluruh mahasiswa. Bagaimanapun juga karakter bangsa ini dapat kita ukur dari persfektif sikap      pemudanya. Oleh karena itu, Universitas Sriwijaya sebagai making leader sudah sewajarnya mengembangkan karakter tersebut. Akan tetapi yang terjadi malah sebaliknya, sikap Premanisme di dalam kampus ternyata masih terjadi dan ada dalam tubuh sebagian mahasiswa Universitas Sriwijaya. Sudah jelas hal ini dapat merusak nama baik Universitas Sriwijaya sebagai lembaga pendidikan yang di banggakan Wong SUMSEL selama ini. Selain itu juga, kita sudah mengetahui bersama bahwa       kompetisi mahasiswa sebaiknya di lakukan dengan media intelektualitas yang murni, bukan sebaliknya dengan gaya premanisme. Apalagi masalahnya adalah proses demokrasi di kalangan mahasiswa itu sendiri, yang seharusnya menjadi contoh bagi perkembangan dan pendidikan politik di masyarakat dan semestinya lebih mengutamakan jiwa  intelektualitas di era reformasi.

Hal ini jelas mengganggu keamanan kampus UNSRI; mengganggu individual dalam menerima haknya sebagai pelajar (red: mahasiswa) dalam proses belajar-mengajar, merusak nama baik UNSRI, bahkan akan mempengaruhi sikap mahasiswa dalam memimpin nantinya. Bangsa ini   tidak akan membiarkan para calon pemimpin yang “katanya” akan memperbaiki bangsa ini dengan culture premanisme. Maka sudah sewajibnya hal ini perlu kita sadari dan benahi bersama.

BEM UNSRI sebagai lembaga tertinggi mahasiswa di kampus Universitas Sriwijaya berkewajiban mengawal proses ini dengan sebaik-baiknya, demi keamanan kampus dan nama baik Universitas     Sriwijaya sebagai  almamater kebanggaan. Oleh karena itu dalam kasus Pemira FE UNSRI yang terjadi akhir-akhir ini di khawatirkan akan berdampak pada keamanan kampus secara kelembagaan dan    keamanan individu mahasiswa sebagai peserta yang mengikuti proses belajar dan mengajar dengan  sikap premanisme yang dilakukan akhir-akhir ini. Maka BEM UNSRI dalam rangka mengakomodir aspirasi dan   advokasi permasalahan internal kampus mengawal nama baik almamater kampus UNSRI demi kepentingan bersama sebagai mahasiswa yang memiliki hak secara penuh dalam proses belajar mengajar.

Pada kasus ini, BEM UNSRI tegas dengan sikapnya: “Apabila kedua belah pihak serta Dekanat    Fakultas Ekonomi tidak dapat menyelesaikan masalah yang terjadi di Fakultas Ekonomi selama 3 hari (terhitung 12 Mei 2010), Maka BEM UNSRI sebagai lembaga tertinggi mahasiswa di Tingkat Universitas Sriwijaya akan mengambil alih penyelesaian kasus ini”.

BEM UNSRI Siap mengawal keamanan kampus demi kepentingan mahasiswa dalam menerima     haknya secara penuh dalam proses belaja-mengajar.

Wandi Jaya Putra

Menteri Advokasi & Kesejahteraan Mahasiswa

Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sriwijaya

Oleh: budakbemunsri | 30 April 2010

POTRET PENDIDIKAN NEGERIKU…… Indonesia

“Carilah ilmu sampai ke Negeri China.., gali lah ilmu sampai ke liang lahat”

Mungkin kita semua sering mendengarnya, dan pastinya sudah tidak asing lagi di telinga kita, karena kata-kata tersebut jelas sejak kita berada di kelas nol kecil hingga nol besar bahkan sampai saat ini kita sering mendengarnya di ajarkan oleh para guru. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya mencari ilmu bagi kehidupan. Dari zaman ke zaman mencari ilmu ataupun pendidikan sangatlah penting bagi kehidupan kita, apa lagi di era globalisasi seperti ini. Kompetisi dalam berkarir sebagian besar di tentukan melalui jenjang pendidikan. Bahkan pendidikan sebagian orang sering menganggap sebagai tingkat strata di bidang sosial. Para pejabatpun untuk duduk di singgasana kekuasaanpun harus melalui pendidikan yang di buktikan melalui Ijazah sebagai Surat Tanda Tamat Belajar, walaupun ada beberapa yang terbukti menggunakan ijazah palsu, hal tersebut menunjukkan seperti itulah gambaran pentingnya pendidikan dalam kehidupan kita.

Akan tetapi kesalahan yang sering terjadi adalah kita hanya dapat melihat dari segi tingkat stratanya saja. Kita harus cermati lagi kualitas pendidikan di negeri ini, dengan sistem yang setiap tahunnya berganti seolah pendidikan menjadi kelinci percobaan oleh pemerintah kita yang tidak konsisten dengan caranya sendiri, hal ini menunjukkan “indikator utama” kegagalan pemerintahan dalam bidang pengelolaan pendidikan. Hal seperti ini seharusnya tidaklah terjadi dinegeri ini, kita memaklumi keadaan Negara berkembang seperti pendidikan di Indonesia, tapi tidak dibenarkan juga menggunakan hal ini sebagai proses pencarian simpati masyarakat. Seperti halnya yang terjadi pada kelulusan di beberapa sekoah tahun ini, yang menurun beberapa persen dari tahun lalu, seolah menjadi pembenaran bagi pemerintah sebagai “tingkat kejujuran siswa meningkat” hal ini adalah sarana pemerintah untuk mulai beretorika dan membohongi public. Dan hal ini semestinya tidak terjadi d negeri ini. Krisis koreksi diri sebagai sistem domokrasi cultural di negeri ini sangatlah berdampak sistemik bagi kehidupan berbangsa yang semestinya bisa lebih maju. Banyak factor lain yang menggambarkan Indonesia harus membenahi atau yang kita sebut dengan merekonstruksi kembali sistem reformasi dengan lebih aktif dan dinamis. Hal ini di latar belakangi oleh matinya kreatifitas di element pendidikan yang seharusnya menjadi sumber ilmu yang disebabkan oleh aturan dan sistem yang tidak jelas.

UNIVERSITAS SRIWIJAYA sebagai Universitas terkemuka di Sumatera Selatan menjadi contoh kasus dalam hal ini. “aturan itu kan memang untuk di langgar..” ituah guyonan mahasiswa yang sering jadi paradigma negative bersama saat kita tanyakan tentang pendidikan. Jelas bahwa paradigma tersebut melekat dalam kehidupan belajar- mengajar di UNSRI, beberapa catatan yang mengindikasikan kesalahan tersebut, yakni;

  1. Jadwal perkuliahan yang awalnya sudah di SK kan menjadi sampah saat di atur kembali oleh para dosen dengan melandaskan latar belakang kepentingan pribadi para dosen, apalah arti sebuah keputusan pimpinan, Rektor maupun Dekan??
  2. Kehadiran dosen dalam proses belajar-mengajar sebagian besar memiliki masalah, yakni bila bukan keterlambaan dosen masuk pada jadwal yang semestinya, maka dosen itu tidak hadir sama sekali, sementara mahasiswa menjadi kambing congek yang ikhlas menanti sang kura-kura yang pemalas.
  3. Prinsip keadilan yang ada; aturan jadwal yang di sepakati oleh dosen dan mahasiswa tidak berlaku bagi dosen yang hadirnya telat
  4. Dan lain-lain (yakni masalah kecil yang berdampak sistemik yang tidak laak kita sebutkan)

Maka oleh karena itu, bertepatan juga dengan hari pendidikan nasional yang tepat jatuh dan di peringati pada tanggal 2 mei yang mengharapkan pendidikan lebih baik lagi, perlu sekali pembenahan bagi UNSRI setelah kita lihat “POTRET PENDIDIKAN UNSRI” yang pada saat ini realitanya masih harus banyak perbaikan.

Apa pendapat anda tentang pendidikan  indonesia dan pendidikan UNSRI??

Menjelang tengah periode kepemimpinan Rektor UNSRI, artinya masih perlu banyak sekali hal-hal yang mesti di cermati sejalan dengan cita-cita besar Rektor yang juga merupakan cita-cita kita bersama.

Hidup Mahasiswa…..!!!

Majulah Pendidikan Indonesia….!!!

Merdeka Negriku…!!

Wandi Jaya Putra (FISIP/ AN/2006)

Menteri Advokasi & Kesejahteraan Mahasiswa BEM Unsri 2009-2010

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.